Jiro Dreams of Sushi (2011)

Genre    : Documentary
Director : David Gelb
Length   : 81 min
Country : Denmark, Japan

David Gelb dalam dokumenter ini membawa kita ke sebuah restoran kecil berbangku tak lebih dari 15 di sebuah stasiun bawah tanah di Ginza, yang dimiliki oleh Jiro. Jiro adalah seorang koki spesialis penyaji Sushi. Ia menghabiskan separuh waktunya untuk membuat sushi, dan sebagaimana kebanyakan orang Jepang, ia seorang penggila kerja. Sebagai seorang koki sekaligus pemilik restoran, Jiro bekerja dari pagi-pagi sekali hingga restoran ditutup di malam harinya. Rutinitasnya yang padat pun sempat membuahkan cerita yang unik, dimana ia pernah dikira orang asing yang tidur di rumah anaknya, gara-gara anak Jiro hampir tidak pernah bertemu dengan anaknya. Dedikasinya yang tinggi terhadap sushi pun membuat restoran sushi miliknya diganjar penghargaan tiga Michelin Star, sebuah penghargaan internasional untuk restoran yang mana sangat sepadan untuk bahkan ke luar negeri hanya untuk mencicipi makanan yang ada di restoran tersebut.

Waltz With Bashir (2008)

Genre    : Documentary
Director : Ari Folman
Length   : 90 min
Country : Irael

Representasi Visual : Antara Kolektivitas dan Moralitas

Ari Folman, seorang mantan tentara Israel, selalu mendapat mimpi aneh yang mengerikan setiap kali ia tidur. Dalam mimpinya ia melihat ada 26 anjing liar yang mengejarnya. Keanehan ini pun diceritakan pada temannya, yang kemudian menghubungkan mimpi tersebut dengan perang Lebanon. Folman yang lupa dengan peristiwa tersebut pun semakin terpacu untuk menelusuri mimpinya tersebut. Perjalanannya kembali menyelidiki memori masa lalunya inilah yang menjadi cerita besar film “Waltz With Bashir”.

Undressing My Mother (2004)

Genre    : Documentary
Director : Ken Wardrop
Length   : 6 min
Country : Ireland

Tubuh, Media Universal
Film ini menceritakan pengalaman seorang ibu yang pula merupakan ibu dari Ken Wardrop, sutradara di balik film berdurasi 4 menit ini. Film ini berusaha merekam sepenggal perjalanan ibunya yang sudah renta melalui pandangan diri terhadap tubuhnya. Film yang memiliki kesan seperti sebuah diary personal seorang ibu ini menyoroti kecintaannya pada makanan, juga kerinduannya pada suaminya yang telah lama meninggal. Yang menarik disini, tubuh menjadi media sang ibu untuk bercerita, bagaimana tubuhnya yang membesar gara-gara kesukaannya terhadap makanan, lalu misalnya lagi, bagaimana suaminya dulu memandang tubuhnya. Ketika dibawa ke konteks yang lebih luas, film ini hendak mengangkat kegundahan seorang wanita, dimana posisinya sebagai seorang istri, ibu, dan secara lebih hakiki lagi, sebagai manusia. Usia yang terus bertambah membuatnya semakin berjarak dengan lingkungannya, dan itu tercermin dari bentuk tubuhnya yang keriput, menyiratkan dirinya seolah tidak lagi menarik. Namun Ken Wardrop mencoba mengangkat kegalauan tersebut dengan menempatkan ibunya sebagai oposisi. Karena disini, subyek dalam film justru mencintai bentuk tubuhnya. Optimisme ini bisa dilihat dari perspektif ibunya dalam bercerita.

Three Of Us (2008)

Genre    : Documentary
Director : Umesh Kulkarni
Length   : 14 mins
Country : India

"Three Of Us" menceritakan secuil kehidupan seorang ayah, ibu, dan anak, dimana si anak memiliki penyakit saraf yang sudah diderita cukup lama. Dalam gambar, ditunjukkan keseharian hidup yang dialami si sakit, dari mulai dimandikan oleh ibunya hingga akhirnya tidur di apartemen kecil. Gambar-gambar sunyi, dan paras-paras sendu kerap tersorot dari wajah si ayah dan ibu, sementara si anak hanya bisa tersenyum menyeringai (karena hanya itu ekspresi yang bisa ia berikan) membuat kehidupan tiga orang ini begitu dramatis. Gambar-gambar yang statis seolah-olah bisu ini justru membuat saya menjadi sangat tidak nyaman dengan kondisi serta nuansa yang dihadirkan oleh pembuat film. Rasa greget, sendu, ketidakbiasaan, dibungkus tanpa adanya dialog-dialog berarti dan sudut pengambilan gambar yang indah.

Roger & Me (1989)

Genre    : Documentary
Director : Michael Moore
Length   : 91 mins
Country : USA

Cikal bakal dokumenter investigatif ala Michael Moore

Apa yang terjadi kemudian apabila suatu perusahaan besar melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran? Bila bicara konteks Indonesia, tentu ada pihak yang spontan menjawab akan terjadi demonstrasi besar-besaran pula, namun di sisi lain, yang pertama kali terjadi tentunya adalah adanya pengangguran. “Roger & Me” adalah film dokumenter panjang pertama Michael Moore yang menceritakan dampak peristiwa PHK besar-besaran pekerja GM (General Motors), salah satu perusahaan otomotif terbesar seantero Amerika Serikat. Michael Moore, seorang fimmaker dokumenter yang lahir di Flint, salah satu kota di USA, menelusuri peristiwa PHK oleh GM yang terjadi dan berimbas pada kota kelahirannya itu. Merosotnya tingkat ekonomi di kota Flint mendorong Michael untuk mencari Roger Smith, Chairman GM, untuk datang dan melihat efek domino dari pemecatan yang dilakukan perusahaan otomotif tersebut.

Bus 174

Genre    : documentary
Director : Jose Padhila
Length   : 122 mins
Country : Brazil

Film ini akan membawa kita ke Brazil, tetapi bukan pemandangan hiruk-pikuk festival atau panta-pantai indah Brazil dan bangunan-bangunan unik bergaya art deco seperti patung Cristo Redentor yang legendaris di puncak gunung Corcovado, Rio de Janeiro. Bus 174 menyuguhkan sebuah cerita kriminalitas, tentang seorang pencuri yang akhirnya menjadi pembajak bus di Brazil. Akan tetapi, Jose Padilha berhasil membungkus cerita pembajakan bus menjadi jauh lebih menarik. Ia menggiring penonton dengan alur multiplot, mencoba menyelami proses latar belakang pembajakan yang dilakukan Sandro si pelaku pembajakan bus. Ketimbang menyalahkan negara semata-mata, Jose Padilha menyodorkan kisah anak-anak jalanan terlebih dahulu yang menjadi terasing dengan lingkungan. Anak  jalanan menjadi invinsible di antara masyarakat, dan pandangan negatif masyarakat pun terbentuk, yang memposisikan anak jalanan ini kemudian berada dalam kondisi liminal. Pemerintah lewat aparat hukum yang berbuat sewenang-wenang, dan bahkan melakukan pembantaian massal di Gereja Candelaria di pusat kota Rio (yang notabene merupakan tempat bernaung anak-anak jalanan di Rio), menjadi pemantik anak jalanan ini terjun ke dunia negatif, salah satunya Sandro.

Burma VJ (2008)

Genre    : Documentary
Director : Anders Østergaard
Length   : 84 mins.
Country : Denmark, Myanmar

Pada tahun 1962, negara Burma dikudeta oleh penguasa militer yang dipimpin oleh Jendral Ne Win, dan dimulailah rezim yang dikenal luas sebagai rezim Junta militer. Upaya menentang terhadap rezim ini mulai terlihat di tahun 1988, ketika devaluasi terjadi, memunculkan banyak gerakan anti pemerintah. Di saat pemilu tahun 1990 dimenangi oleh NLD (National League of Democracy) yang dipimpin Aung San Suu Kyi tidak diakui oleh junta militer, gerakan anti pemerintah semakin menjadi-jadi.

Born Into Brothels (2004)

Genre    : Documentary
Director : Zana Briski, Ross Kauffman
Length   : 85 mins.
Country : USA

Area-area liminal kerap dihindari oleh masyarakat, dimana dunia malima adalah pemandangan yang biasa ditemui. Adalah di Calcutta, tepatnya di Shonagochi, merupakan daerah yang disebut dengan red-district, tempat tinggal dan beraktivitas para pelacur, pemabuk dan segala yang berbau malima banyak terjadi. Namun di tempat ini pulalah, seorang fotografer, Zana Briski tertarik untuk tinggal dan merekam kehidupan para perempuan pekerja seks disana. Namun takdir berkehendak lain, Zana dikenalkan dengan beberapa anak kecil disana, yang menggerakkannya untuk mengajari mereka memotret. “Born Into Brothels” merekam proses rekam jejak Zana dan anak-anak didikannya selama workshop memotret.

Bilal (2008)

Genre    : Documentary
Director : Sourav Sarangi
Length   : 92 mins.
Country : India
Menonton “Bilal” adalah menonton India yang suram. Itulah yang setidaknya tercetus ketika melihat gambar-gambar yang tersaji, dimana pemandangan kumuh, kusam, gelap, dengan keliaran tikus, burung-burung gagak bertebaran disana-sini.  Belum pula dengan raut rupa orang-orang yang terlihat lebih tua dari seharusnya, nampak menegaskan bahwa mereka telah merasakan pahitnya hidup. Seolah-olah, gambar-gambar dalam film dokumenter “Bilal” hendak menunjukkan realita lain dari India, jauh dari gemerlap goyangan pinggul artis-artis Bollywood yang senantiasa mewarnai layar kaca.

Acidente (2007)


Genre    : Documentary
Director : Cao Guimarães, Pablo Lobato
Length   : 72 minutes
Country : Brazil

Menonton “Accidente” seperti bermain puzzle yang fragmennya tak banyak, tetapi dengan sekujur lekukan acak di tiap sisi. Seolah mudah, tapi rumit. Secara umum, “Accidente” berisi rekaman dari 20 tempat di suatu daerah di Brazil dengan judul berbeda-beda, tanpa ada tema spesifik yang “membungkus” semua itu kecuali tadi, accidente – atau dalam bahasa Indonesianya tiba-tiba. Paduan gambarnya acak, dalam satu judul ia bisa hanya merekam orang yang menceburkan dirinya ke dalam air, sedangkan di judul lainnya ia mengambil panorama statis hutan dengan kabutnya. Angle yang diambil pun beragam, sehingga sepintas kita akan menganggap bahwa pembuat film ingin mengeksplorasi bahasa gambar dalam film. 

Due Date


Apabila mendengar kata Robert Downey Jr., yang terbesit dalam pikiran banyak orang mungkin adalah film superhero Iron Man. Untuk film yang satu ini, peran Downey (sebagai Peter) bisa disandingkan dengan tokoh Tony Stark. Mereka sama-sama sukses dan yang menjadi pasangannya adalah wanita-wanita berparas model. Di samping itu, baik Peter maupun Tony Stark sama-sama memiliki sosok manusia modern dengan gaya hidup dan pemikiran yang modern pula. Jadi intinya, karakter Tony dan Peter benar-benar mirip (jikalau tak bisa dikatakan identik). Bila puas dengan akting Downey dalam Iron Man, maka aktingnya dalam film yang satu ini juga tentunya akan memuaskan penonton.

Mereka bilang saya,Monyet!

Di suatu hari yang cerah dimana burung-burung sudah mulai malas berkicau karena udah mulai sesak napas sepanjang hari isinya cuma ngisep karbon dan teman-temannya(set...ga penting amat!),saya pergi ke rental film dan meminjam sebuah film karya seorang penulis,Djenar Maesa Ayu..
Alhasil saya puaskan mata saya dalam melihat film itu...dialog per dialog, transisi per transisi, film ini cukup membingungkan. Tapi bukan karena